Dari Karang Taruna ke Ladang: Kisah Mantan Ketua yang Kini Ajarkan Anak Muda Cianjur Jadi Petani Andalan
- account_circle DN / OZI
- calendar_month Sel, 16 Des 2025
- visibility 218
- comment 0 komentar

Cianjur – Perjalanan seorang mantan Ketua Karang Taruna Cianjur ternyata tidak berhenti di organisasi pemuda. Kini, dengan jabatan barunya sebagai Direktur Agro Taruna Tani Jawa Barat, ia punya misi besar: mengubah citra pertanian dan menjadikannya magnet bagi generasi muda.
“Bonus demografi jangan sampai jadi beban. Mari kita alihkan menjadi kekuatan di ladang-ladang kita sendiri,” ajaknya penuh semangat. Visinya jelas: membangun ketahanan pangan dengan menjadikan pemuda sebagai aktor utamanya.
Membangun dari Lahan yang ‘Tidur’
Alih-alih mencari lahan baru,program ini justru membangkitkan potensi lahan tidur yang terlantar. Dengan dukungan pemerintah desa, hampir 15 hektar lahan di Cianjur dan Bandung Barat kini ‘terbangun’ dan hijau kembali. Di sana, puluhan pemuda—banyak yang bukan lulusan pertanian—belajar sambil praktik menanam cabai, bawang, hingga sayuran.
“Lihatlah di Sukanagara. Ada sekitar 20 pemuda yang awam pertanian, kini bisa panen dan merasakan manfaat ekonominya langsung. Ini bukti, siapa pun bisa,” ceritanya dengan bangga.
Memutus Rantai Urbanisasi dengan Cangkul dan Keyakinan
Bagi dia,angka urbanisasi tinggi bisa dikalahkan dengan menciptakan harapan di desa. “Jangan sampai pemuda kita pergi ke kota hanya karena di desa tidak ada peluang. Kita ciptakan peluang itu di sektor pertanian. Beri mereka kepercayaan, mereka akan tunjukkan karya,” tegasnya.
Terobosan: Tanam Sekali, Panen Empat Kali!
Inovasi terbaru datang melalui programT1P4K (Tanam 1 Kali Panen 4 Kali) hasil kolaborasi dengan PT. Thara Indonesia. Bayangkan, satu kali tanam padi bisa menghasilkan panen hingga empat kali! Hasil uji coba di Soreang sangat menjanjikan. Program ini juga dirancang adil bagi pemilik lahan, dengan skema sewa atau bagi hasil tanpa membebani modal petani.
“Jangan Cengeng, Jangan Gengsi!”
Pesan untuk calon petani muda dan petani lama:”Kita harus keluar dari zona nyaman. Saya sendiri tidak sekolah pertanian. Kuncinya keyakinan dan kerja keras. Jangan ikut-ikutan musim tanam, tapi berstrategi. Saat orang lain tidak panen, kita justru harus bisa panen agar harga lebih baik,” ucapnya menggebu.

Dukungan Mengalir dan Semangat Meluas
Dukungan dari pemerintah pusat dan daerah menjadi angin segar.Dengan fokus awal di dua kecamatan di Cianjur, ia optimis gerakan ini akan menjalar ke berbagai penjuru Jawa Barat. “Garut, Majalengka, Cirebon, Karawang… semua punya potensi. Ini baru awal,” tutupnya penuh keyakinan. Harapannya, ladang tak hanya menghasilkan pangan, tapi juga kebanggaan dan masa depan cerah bagi pemuda desa.
- Penulis: DN / OZI




Saat ini belum ada komentar